JENEWA – Puncak tertinggi masuknya para migran ke perbatasan Uni Eropa terjadi pada bulan lalu. Situasi menunjukkan bertambah parahnya krisis kemanusiaan dengan bertambah banyaknya para migran dan harus ditanggung oleh 28 negara Uni Eropa. ... Frontex, Badan pengawas perbatasan Uni Eropa pada bulan lalu mencatat angka yang cukup fantastis sebanyak 107.500 migran. Angka ini meningkat drastis dibanding masuknya para migran di bulan Juni yang tercatat 70.000 jiwa. “Ini merupakan situasi darurat bagi Eropa yang mengharuskan semua anggotanya untuk memberikan dukungan kepada otoritas UE, untuk mengatasi masalah migrant di perbatasan, “ucap Fabrice Leggeri, direktur Frontex dilansir AFP. Badan PBB khusus pengungsi, UNHCR, mengatakan minggu lalu saja terdapat 20.843 migran, yang sebagian besar menjadi korban peperangan dan penganiyaan di Suriah, Afganistan dan Irak. Sejak Januari tahun ini sebanyak 160.000 migran tercatat masuk ke Yunani. Frontex mengatakan, jumlah migran yang menembus perbatasan Uni Erop hampir mencapai 340.000 orang pada periode Januari – Juli 2015.Angka ini meningkat dari 123.500 orang pada periode sama tahun 2014. Antonio Guterres, Ketua UNHCR pada Selasa (18/8) meminta adanya solidaritas diantara negara – negara anggota Uni Eropa dalam menangani pencari suaka. UNHCR bersikeras bahwa situasi ini tidak berkelanjutan bagi Jerman dan Swedia yang menjadi negara favorit bagi para pengungsi.
Read More.. Label: bersama tangani migran, Frontex, UNHCR, Uni Eropa serukan solidaritasKUALA LUMPUR – Otoritas Malaysia mulai melakukan penggalian jenazah yang diduga menjadi korban perdagangan manusia, setelah ditemukannya lokasi kuburan masal di dekat perbatasan Thailand. Otoritas meyakini bahwa sebanyak 139 kuburan merupakan para korban yang ditahan di tengah hutan untuk ditukar dengan tebusan kemudian mereka yang meninggal dikubur. ... Ribuan migran telah meninggalkan Myanmar dan Bangladesh dalam beberapa minggu terakhir menggunakan perahu menuju Thailand dan Malaysia. Namun tidak semua perjalanan jauh migran ini berjalan lancar, banyak dari mereka yang berakhir ditangan para oknum perdagangan manusia. Saat ini otoritas Thailand memberikan upaya bantuan berupa pangkalan angkatan laut terapung bagi para migran. Para otoritas setempat lokasi ditemukannya kuburan masal baru saja ditinggalkan, setelah adanya tindakan keras dari pemerintah Thailand terhadap para oknum pelaku perdagangan manusia juga ditemukannya kuburan masal di wilayah selatan propinsi Songkhla. Beberapa migran rupanya ditahan ditengah hutan dengan cara dimasukkan ke dalam kandang yang terbuat dari rangka kayu dan kawat berduri sebagai pengganti jeruji besi. Kepala Kepolisian Nasional Malaysia, Khalid Abu Bakar mengatakan, terdapat tanda – tanda bahwa telah terjadi penyiksaan, namun ia tidak merincinya. “Kami sangat terkejut dengan kekejaman ini, “ungkap Khalid dilansir BBC. “Kami mengira para migran dipenjarakan dalam kandang ini. Mereka tidak diperbolehkan bergerak bebas dan para oknum perdagangan manusia ini mengawasi dengan ketat dari pos penjagaan, “tambah Khalid sembari mengacu ke kandang. Awal bulan ini, pemerintah Thailand melakukan tindakan keras melacak jalur perdagangan manusia yang digunakan untuk menyelundupkan manusia asal Bangladesh dan Myanmar (Rohingya) ke dalam wilayahnya. Para migran yang ingin menuju ke Malaysia malahan dikirim melalui jalur laut. Tapi ribuan nyawa manusia terombang – ambing karena tidak ada negara yang mampu menampung mereka. UNHCR salah satu badan PBB mengatakan, sekitar 3.000 orang telah berhasil mencapai daratan, namun diperkirakan sebanyak 2.600 orang lainnya masih berada di lautan. Minggu ini pemerintah Malaysia dan Indonesia sepakat untuk tidak melakukan penolakan terhadap para migran dan kedua negara akan memberikan tempat penampungan sementara pada mereka. Menteri Dalam Negeri Malaysia, Zahid Hamidi pada Selasa (26/5) mengatakan, bahwa pemerintah mencurigai adanya persekongkolan antara tersangka oknum penyelundup manusia dengan aparat penegak hukum. “Penyelidikan kami menunjukkan bahwa terdapat kerjasama satu dengan lainnya tak hanya pejabat lokal, namun mereka memiliki jaringan internasional termasuk Thailand, Bangladesh dan Myanmar, “ucap Hamidi dilansir Malaysian Insider. Tapi sementara otoritas Thailand akan berhenti menarik membawa pergi perahu para migran dari wilayahnya juga tidak mengijinkan migran masuk wilayahnya. Pada Senin (25/5), Thailand dihadapkan pada tekanan internasional untuk melakukan tindakan lebih dari itu. Perdana Menteri Thailand, Prayuth Chan-ocha mengatakan, pemerintahnya akan memberi bantuan berupa pangkalan laut terapung untuk membantu para migran. Sebuah kapal angkatan laut dilengkapi dengan pesawat pengintai akan memberikan pasokan dan perawatan medis kepada para migran yang terdampar di Laut Andaman. Hanya mereka yang menderita sakit parah saja yang akan dibawa ke daratan, namun statusnya tetap dianggap sebagai pendatang gelap. “Jika ada yang terluka atau sakit mereka dapat menjalani perawatan medis di rumah sakit di Thailand, namun tetap menghadapi tuduhan masuk secara ilegal. Keputusan ada ditangan mereka untuk memilih, “ucap Perdana Menteri Chan-ocha dilansir BBC. Penawaran ini terlihat lebih selaras dengan upaya pemerintah Thailand untuk menjaga jarak dengan perahu migran. Ini merupakan langkah menghindari membawa para migran masuk wilayah daratannya. Otoritas Thailand menambahkan, migran yang membutuhkan perawatan medis di rumah sakit akan dihadapkan pada tuntutan masuk wilayah secara ilegal. Mereka berencana untuk membawa para migrant lainnya pada operator pangkalan terapung dan kemudian mengirimnya ke pihak Indonesia dan Malaysia. Mereka juga akan menemukan kapal – kapal migrant. Pemerintah Thailand telah mengumumkan akan mengerahkan dua pesawat pengintai dari angkatan laut, beberapa helikopter dan sekarang juga mengijinkan pesawat angkatan laut Amerika Serikat (AS) beroperasi dari pangkalan Thailand, setelah sebelumnya menolak sebuah permintaan pemerintah AS, namun dengan satu syarat operasi pihak AS dijalankan dibawah komado militer Thailand.
Read More.. Label: etnis Rohingya, Malaysia, Pengungsi Myanmar dan Bangladesh, UNHCR, wajib bantu migranGENEVA – PBB melalui salah satu badan organisasinya UNHCR serta pejabat lainnya pada Selasa (19/5), meminta kepada Indonesia, Malaysia dan Thailand untuk turun tangan membantu pengungsi yang masih terdampar di laut, sebagai upaya menghadapi krisis migran di wilayah Asia Tenggara. ... Sebuah pernyataan tertulis berbunyi bahwa ketiga negara dan 10 negara ASEAN lainnya harus memprioritaskan penyelamatan manusia dalam agenda mereka, dengan memperkuat misi pencarian dan penyelamatan juga memfasilitasi keamanan mereka. Juga dikatakan bahwa migran harus diberi tempat tinggal sementara pada daerah aman dan kondisi layak huni, perawatan kesehatan. Setiap migran juga harus ditelusuri latar belakangnya untuk menentukan pemberian perlindungan sebagai pengungsi, pencari suaka, orang tanpa kewarganegaraan atau korban perdagangan manusia. Dalam pernyataan yang ditanda tangani oleh ketua UNHCR, Antonio Guterres, ketua komisi hak asasi manusia, Zeid Ra’ad Al Hussein, Organisasi Internasional untuk Migrasi, William L Swing dan perwakilan khusus dari Sekretaris Jenderal PBB, Peter Sutherland. Aksi pemerintah Indonesia, Malaysia dan Thailand telah menimbulkan kecaman internasional terkait penolakan masuk bagi para manusia perahu yang membawa para pengungsi Rohingya yang putus asa dari Myanmar dan Bangladesh. Kini nasib mereka jadi terkatung – katung di lautan tanpa bekal makanan dan tujuan pasti. Dalam pernyataan juga tertera lebih dari 88.000 migran telah melaut sejak 2014, sebanyak 25.000 orang telah mendarat dalam tiga bulan pertama tahun ini. “Hampir 1.000 orang diyakini telah tewas di laut dikarenakan minimnya keselamatan selama perjalanan dan jumlah yang sama mengalami kekerasan serta pelecehan yang dilakukan para oknum penyelundup manusia, “tulis pernyataan dilansir AFP. Selama pelayaran Teluk Benggala, para migran dan pengungsi hanya diberi makan nasi putih dan menglami kekerasan termasuk kekerasan seksual. Para wanita diperkosa, anak – anak dipisahkan dari orang tua mereka dan disalahgunakan. Para lelaki mengalami penyiksaan kemudian dibuang di lautan. Pejabat PBB mengatakan negara tujuan harus menghentikan penahanan imigrasi dan langkah – langkah hukum lainnya dan juga harus menghentikan jaringan perdagangan manusia dan melawan xenophobia. Faktor ekonomi menjadi alasan utama sebagian besar pengungsi asal Bangladesh, namun Rohingya yang menjadi warga minoritas di Myanmar melarikan diri dari negaranya akibat sering mengalami kekerasan sectarian dan diskriminasi di tengah – tengah mayoritas penduduknya yang menganut agama Budha. UNHCR mengatakan, setiap musim semi banyak perahu berlayar kearah selatan Teluk Benggala, berusaha menaklukkan badai hujan, mengorbankan nyawa ratusan orang.
Read More.. Label: bongkar jaringan perdagangan manusia, etnis Rohingya, IOM, manusia perahu, PBB, Pengungsi Myanmar dan Bangladesh, UNHCRCATANIA – ITALIA Polisi Italia menahan dua orang tersangka atas tuduhan perdagangan manusia diantara para migran yang selamat setelah kapal mereka terbalik pada Minggu (19/4). Laporan PBB mengatakan 800 orang tewas, ini merupakan bencana terburuk yang menimpa para migran. ... Pihak kepolisian telah menangkap seorang pria warga Tunisia yang menjadi kapten kapal pengangkut dan seorang pria warga Suriah yang menjadi awak kapal itu. Pada Senin malam, dilakukan penahanan terhadap kedua tersangka bersamaan dengan 27 orang migran selamat yang tiba di pelabuhan Sisilia di Catania. Kedua pria ini dihadapkan pada tuntutan perdagangan manusia. Dibawah pantauan langsung menteri Uni Eropa, yang saat menyetujui pengajuan untuk penambahan Triton, kamera pengawas perbatasan, menjadi dua kali lipat. Badan PBB khusus penaganan pengungsi UNHCR dan Organisasi Internasional untuk Migrasi mengandalkan pengungsi yang selamat dari kapal untuk dimintai keterangannya terkait insiden. “Kami dapat mengatakan bahwa 800 orang tewas, “ucap Carlotta Sami juru bicara Badan PBB, UNHCR dilansir AFP. Para korban selamat menceritakan kepada pihak otoritas, ketika kapal pukat ikan sepanjang 20 meter yang membawa mereka terbalik, setelah sebelumnya kapal dagang asal Portugal menghampiri kapal sehingga menyebabkan kepanikan. “Terdapat sedikit lebih dari 800 orang dalam kapal, termasuk anak – anak berusia antara 10 dan 12 tahun. Mereka berasal dari Suriah, sekitar 150 dari Eritrea, Somalia. Mereka berlayar dari Tripoli sekitar pukul 8 pagi pada Sabtu, “sambung Sami. Para orang yang selamat dari Mali, Gambia, Senegal, Somalia, Eritrea dan Bangladesh. Mereka semua telah dibawa ke pusat penampungan terdekat, sementara seorang korban selamat dlarikan ke rumah sakit di pesisir timur Catania, Sisilia. Kepala Urusan Luar Negeri Uni Eropa, Federica Mogherini telah mengumumkan rencana sebelumnya pada Senin untuk menangani krisis bertambahnya para migran, setelah ia mengatakan dalam rapat dengar pendapat dengan para anggota Uni Eropa bahwa mereka tak punya alasan lain untuk tidak bertindak. Organisasi Internasional untuk Migrasi mengatakan, mereka telah menerima panggilan darurat dari kapal lainnya, tapi peringatan dini ini menyebabkan kecelakaan pada kapal lainnya. Sementara itu dalam pertemuan Menteri Luar Negeri dan Dalam Negeri se Eropa di Luxembourg untuk membahas banjirnya kedatangan pengungsi untuk memasuki wilayah Eropa. Perdana Menteri Italia Matteo Renzi secara terpisah mengatakan bahwa penjaga perairan Italia telah meminta kapal dagang untuk datang membantu dua perahu di perairan Libia dengan 450 orang didalamnya setelah mereka meminta pertolongan. Kepolisian Yunani juga melaporkan adanya tiga orang migran tewas, termasuk anak kecil, setelah perahu yang datang dari Turki tenggelam di wilayah pulau Rhodes. Tayangan dramatis menunjukkan bahwa orang – orang berusaha menyelamatkan diri dengan meraih puing – puing bersamaan dengan terjangan ombak yang menyapu mereka ke bebatuan. Sebanyak 93 orang berhasil diselamatkan. Sampai pertengahan minggu lalu otoritas Italia telah berhasil menyelamatkan lebih dari 11.000 orang migran. Sementara tahun lalu terdapat 170.000 orang memasuki Italia dan angka ini akan terus meningkat pada 2015. Mogherini mengatakan, pihak Uni Eropa harus memikirkan kebijakan kemanusiaan untuk menampung mereka, jika para migran dipulangkan ke tempat asal mereka itu sama dengan membunuh mereka perlahan – lahan.
Read More.. Label: 800 migran tewas, pengungsi, pengungsi Suriah dan Somalia, perdagangan manusia, UNHCR, uni eropa