Erdogan Peringatkan Uni Eropa Terkait Bebas Visa Schengen Turki

19.41 / Diposting oleh nivra / komentar (0)

ISTANBUL – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Selasa (24/5) mengingatkan Uni Eropa untuk pemberlakukan bebas visa bagi negaranya. Jika ini tidak dikabulkan maka parlemen Turki akan menghentikan rancangan undang-undang yang mengatur masuknya para pengungsi ke Eropa. ... Peringatan yang diberikan Erdogan ini diumumkan bersamaan dengan meningkatnya ketegangan hubungan antara Erdogan dan Uni Eropa terkait perjanjian dan hak asasi manusia. “Jika bebas visa tidak diberlakukan, tak ada keputusan dan undang-undang dalam kerangka kerja yang dikeluarkan dari parlemen Turki,” jelas Erdogan saat pidato penutupan KTT Kemanusiaan Dunia di Istanbul seperti dilansir AFP. “Kementrian Luar Negeri Turki, akan berdiskusi dengan Uni Eropa. Jika berhasil maka akan berjalan bagus. Jika tidak, maka saya minta maaf,” tambah Erdogan. Otoritas Turki juga mengeluhkan kekhawatiran Uni Eropa yang akan menyerahkan janji bantuan senilai 6 miliar Euro (Rp. 91,2 triliun). Awalnya dana segar ini diperuntukkan membantu para pengungsi Suriah di Turki. Erdogan menambahkan bahwa Turki mereka tak pernah mengajukan permintaan bantuan, mereka hanya ingin kejujuran. “Saat dilihat apa yang sudah dilakukan sejauh ini, faktanya mereka tak memenuhi komitmen yang mereka buat. Turki harus memenuhi criteria ? Kriteria seperti apa yang dimaksud ?” sambung Erdogan lagi seperti dilansir BBC. Dalam perjanjian antara Turki dan Uni Eropa tertera bahwa pengungsi yang masuk wilayah Yunani secara ilegal sejak 20 Maret akan dideportasi ke Turki. Hal ini dilakukan jika mereka tidak memenuhi persyaratan untuk mengajukan suaka atau jika pengajuan mereka ditolak. Untuk setiap pengungsi Suriah yang dikirim ke Turki, pihak Uni Eropa harus mengambil seorang pengungsi Suriah yang membuat permohonan suaka secara resmi. Selama KTT Kemanusiaan Dunia berlangsung Erdogan juga menekankan bahwa Turki telah menampung sebanyak 3 juta pengungsi asal Suriah dan Irak. Ini menjadi sebuah contoh bagi dunia. Dia mengatakan hal ini dapat menyulut kembali hati nurani seluruh dunia secara bersama-sama. “Jika hal ini masuk dalam buku sejarah sebagai salah satu dari pertemuan yang tak terhitung jumlahnya dimana tanpa hasil. Saya akan sangat kecewa,” tandas Erdogan. Namun Sekjen PBB Ban Ki Moon mengatakan dirinya sedikit kecewa banyak pemimpin dunia, dengan pengecualian Kanselir Jerman tidak ikut serta bersama Turki. Ban mengatakan ketidakhadiran mereka tidak menjadi alasan untuk tidak ikut berpartisipasi. Erdogan juga menyampaikan kembali idenya untuk membangun sebuah kota di Suriah, sehingga pengungsi Suriah di Turki dapat kembali memiliki tempat tinggal. Dia mengatakan ide ini merupakan hasil perbincangan dengan Kanselir Jerman Angela Merkel. Sementara Uni Eropa menilai bahwa untuk mendapatkan bebas visa Turki harus melakukan revisi undang-undang terkait masalah terorisme. Hal ini menjadi salah satu kriteria yang menjadi perhatian utama. Revisi undang-undang terorisme Turki harus mengacu pada perjanjian yang ditetapkan oleh Uni Eropa. Kelompok aktivis hak asasi manusia dan Uni Eropa menuduh Turki menggunakan undang-undang ini untuk menekan jurnalis dan membungkam perbedaan pendapat. Pemerintahan Ankara membantah tuduhan ini dengan mengatakan hal ini dilakukan untuk melawan kelompok militan. Erdogan menuduh Uni Eropa telah bersikap munafik dengan mengedepankan permintaan ini. Agar bebas visa bagi Turki segera terwujud, pemerintahan Erdogan harus memenuhi 72 kriteria dengan tenggat waktu hingga akhir Juni. Namun Angela Merkel yang telah melakukan pembicaraan dengan Erdogan berpendapat tidak cukup waktu bagi Turki untuk memenuhi kriteria ini.

Read More.. Label: , , , , , ,

Merkel Himbau Turki Bendung Arus Pengungsi

19.12 / Diposting oleh nivra / komentar (0)

BERLIN – Dua kapal yang berisi para pengungsi terbalik di wilayah perairan Turki dan menewaskan delapan anak-anak. Kanselir Jerman Angela Merkel menghimbau kepada otoritas Turki agar dapat membendung arus pergerakan para pengungsi yang masuk ke wilayahnya. Hal ini disampaikan oelh Merkel saat bertemu dengan Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu pada Jum’at (22/1). ... Jerman dan Turki menjadi negara kunci dalam penanganan krisis pengungsi terbesar sejak perang dunia kedua yang melanda benua Eropa. Kedua pemimpin akan menjadikan krisis pengungsi ini sebagai agenda utama dalam pertemuan kabinet kedua negara. Kedua negara juga menjadi negara tujuan utama dari para pengungsi karena dinilai dapat memberi perubahan kehidupan yang layak bagi pengungsi. Menteri Pertahanan Jerman Ursula von der Leyen yang melakukan kunjungan ke Turki pada Kamis (21/1) mengatakan bahwa masalah pengungsi akan menjadi topik penting dalam pertemuan pemerintahan kedua negara di Berlin. Von der Leyen juga dijadwalkan untuk ambil bagian dalam pertemuan ini. Selain itu, rombongan pemerintahan Jerman juga dihadiri oleh Wakil Kanselir Sigmar Gabriel, Menteri Luar Negeri Frank-Walter Steinmeier, Menteri Dalam Negeri Thomas de Maiziere dan Menteri Pembangunan Jerman Gerd Muller. Dalam pertemuan Kamis itu PM Turki Davutoglu mendesak langkah konkrit Uni Eropa untuk membantu Turki dalam masalah krisis pengungsi. Dia bahkan mengatakan tidak akan meminta Merkel dana yang telah dijanjikan: "Kami tidak meminta uang, kita tidak bernegosiasi soal dana ... Bagi kami, itu adalah tugas kemanusiaan, karena masalahnya bukan soal keuangan," jelas Davutoglu seperti dilansir AFP. “Yang kami minta adalah solidaritas, empati. Kami akan membahas ini dengan Kanselir Jerman, Merkel dan kami berharap langkah-langkah konkrit untuk mengatasi masalah ini," tambah Davutoglu. Insiden Jum’at ini menjadi penting bagi Merkel, karena dirinya telah menerima banyak tekanan di dalam negeri yang menerima kehadiran pengungsi dalam jumlah besar. Pada 2015 jumlah pengungsi yang memasuki wilayah Jerman hampir mencapai 1,1 juta orang. Para pemimpin Uni Eropa telah menjanjikan dana senilai tiga milyar Euro kepada Turki, untuk membantu para pengungsi Suriah. Bantuan ini diharapkan dapat mengurangi jumlah pengungsi meninggalkan Turki dan menuju ke Eropa. Tetapi, negara-negara anggota Uni Eropa masih berselisih mengenai berapa banyak masing-masing negara harus membayar bantuan untuk membantu 2,2 juta pengungsi Suriah yang menyinggahi Turki. Austria menjadi negara terakhir untuk menerapkan batas pemerimaan pengungsi di negaranya. Menteri Luar Negeri Austria Sebastian Kurz mengatakan langkah yang diambil pemerintahannya ini menjadi peringatan untuk mendesak Uni Eropa agar bersama-sama mencari solusi. Merkel juga meminta Davutoglu mampu mengurangi pergerakan arus masuk para pengungsi. Sebanyak 2.000 – 3.000 orang pengungsi masuk ke wilayah Yunani setelah menempuh perjalanan dari Turki.

Read More.. Label: , , , , ,