Ukraina dan Pemberontak Masih Jauh Dari Solusi Damai

20.32 / Diposting oleh nivra / komentar (0)

Presiden Ukraina Petro Poroshenko mengatakan pemberontak pro Rusia di wilayah timur Ukraina telah menarik mundur persenjataan beratnya dalam jumlah besar. Seperti dikutip BBC, saat wawancara di televisi Poroshenko menyatakan kekuatan pemerintahannya juga telah menarik mundur roket dan artileri berat. ... Gencatan senjata yang disepakati kedua belah pihak pada Februari lalu memaksa keduanya baik Ukraina maupun pemberontak pro Rusia sejak awal Maret untuk menarik mundur senjata beratnya. Walaupun perselisihan tetap berlangsung namun keduanya tetap mengahrgai gencatan senjata yang disepakati. Masing – masing pihak saling menuduh satu sama lain terkait adanya pelanggaran yang dilakukan atau hanya sebagai strategi baru untuk menyusun kekuatan. Setidaknya diperkirakan sebanyak 6.000 orang telah terbunuh sementara lebih dari sejuta penduduk meninggalkan rumah mereka, sejak konflik yang terjadi di wilayah timur kota Donetsk dan Luhansk pada April 2014. Pada perkembangan lainnya Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan untuk pertama kalinya bahwa rencana untuk mencaplok wilayah Crimea, Ukraina pada Maret lalu telah dipersiapkan seminggu sebelum referendum. Crimea secara resmi diambil Rusia pada 18 Maret 2014, sehingga muncul banyak kecaman dari dunia internasional karena banyak orang – orang bersenjata di semenanjung itu. Putin saat wawancara televisi mengatakan, saat rapat sepanjang malam 22 Februari ia mulai memerintahkan untuk mengembalikan wilayah Crimea. Rapat yang diadakan setelah Presiden bayangan Ukraina, Viktor Yanukovych yang pro Rusia digulingkan dari kekuasaannya di Kiev. Menteri Luar Negeri Inggris Phillip Hammond mengingatkan dalam pidatonya pada Selasa, bahwa kebijakan yang diambil Presiden Putin secara mendasar merusak kemanan negara berdaulat di Eropa Timur. Pernyataan Hammond dikemukakan bersamaan dengan persiapan NATO untuk melakukan latihan militer skala besar di negara – negara Baltik: Latvia, Lithuania dan Estonia, dimana keterlibatan Rusia dalam konflik 11 bulan di Ukraina telah mempertegang urat saraf. “Kita sekarang dihadapkan kepada seorang pemimpin Rusia yang tidak taat kepada aturan internasional untuk menjaga perdamaian antar negara, tapi ia berusaha menumbangkannya, “ucap Hammond seperti dikutip CNA. Hammond juga mengatakan, pencaplokan wilah Crimea secara ilegal dan sekarang menggunakan angkatan bersenjata Rusia untuk mengacaukan Ukraina bagian timur. Tiga hari lalu, Presiden Poroshenko menuduh pemberontak di wilayah timur Ukraina tidak ingin menarik mundur senjata beratnya dibawah pengawasan internasional, hal ini sesuai dengan ketentuan gencatan senjata yang disepakati di kota Minsk, Belarusia. Tapi pada Senin seperti dilansir BBC, ia mengatakan: “Ukraina telah menarik mundur roket dan artileri beratnya. Para pemberontak pro Rusia juga telah menarik mundur dalam jumlah besar. “ Terkait gencatan senjata sendiri ia mengatakan: “Adanya gencatan senjata atau tidak itu hanya tergantung dari cara kita memandangnya.” Poroshenko menambahkan, sejak gencatan senjata secara resmi diberlakukan, sebanyak 64 tentara Ukraina terbunuh. Jumlah keseluruhannya 1.549 tentara Ukraina tewas sejak pemberontakan terjadi. Gencatan senjata yang diberlakukan sejak 12 Februari dipantau secara langsung oleh Organisasi Keamanan dan Kerjasama Eropa. Kedua pihak diharuskan untuk membuat daerah penyangga diantara mereka minimal 50 kilometer untuk artileri dengan peluru berkaliber 100 milimeter serta jarak 70 kilometer untuk roket dan 140 kilometer untuk roket besar dan misil. Seorang diplomat Jerman pada Senin mengatakan, Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama pada bulan lalu setuju untuk tidak mengirimkan senjata bertahan yang mematikan untuk membantu Ukraina. Duta Besar Jerman untuk AS, Peter Wittig mengatakan pada Februari dalam rapat di Gedung Putih bersama Kanselir Jerman Angela Merkel, Obama menyetujui untuk menunda pengiriman itu. Wittig menambahkan, Presiden Obama telah setuju dengan Kanselir Merkel bahwa dianggap penting untuk memberi ruang diplomatik, sementara upaya politik tetap berjalan. Pada Selasa, Menteri Luar Negeri Jerman, Frank-Walter Steinmeier mengatakan sebuah solusi untuk mengatasi masalah Ukraina masih sangat jauh dan untuk itu Ukraina membutuhkan bantuan penting mengingat keadaan ekonomi yang mengerikan. “Langkah yang sekarang diambil merupakan langkah pertama untuk menenangkan diri dari situasi, tapi kita semua tahu bahwa kita masih sangat jauh dari solusi, “ungkap Steinmeier. “Dan aku ingin menegaskan kembali bahwa bantuan keuangan yang segera dikeluarkan untuk Ukraina, mengingat buruknya kondisi ekonomi mereka. “sambung Steinmeier.

Read More.. Label: , , , ,

Rusia Tuduh Ukraina Mengingkari Kesepakatan Minsk

20.48 / Diposting oleh nivra / komentar (0)

Duta Besar Rusia untuk PBB, Vitaly Churkin telah mengecam pengajuan pihak Ukraina untuk mengerahkan pasukan perdamaian PBB di Ukraina timur, hal ini dianggap sebagai langkah yang destruktif. ...“Seruan Presiden Ukraina ini menimbulkan kecurigaan bahwa ia ingin menghancurkan perjanjian Minsk, “ungkap Churkin, seperti dikutip BBC. Gencatan senjata yang telah disepakati di Minsk, tercapai seminggu yang lalu. Namun perebutan wilayah kekuasaan atas kota strategis Debaltseve, membuat pihak Ukraina menarik mundur pasukannya. Pada Kamis, terlihat intensitas serangan meningkat di kota Donetsk yang dikuasai pemberontak. Pejabat Ukraina juga melaporkan adanya serangan mortir yang dilakukan pihak pemberontak di kota pesisir pantai Shirokyne dekat Mariupol. Churkin menuduh Presiden Ukraina, Petro Poroshenko sedang mencari cara lain daripada bertindak sesuai dengan apa yang telah disepakati. “Jika satu usulan baru segera diajukan, akan muncul pertanyaan apakah perjanjian akan dihargai, “sambung Churkin. Kepemimpinan sepihak dari Donetsk People Republic, menunjukkan bahwa usulan untuk diturunkannya pasukan perdamaian merupakan sebuah pelanggaran atas perjanjian Minsk. Pemimpin dari Rusia, Ukraina, Jerman dan Perancis, keempat pemimpin negara tersebut mengadakan pembicaraan lanjutan via telefon pada Kamis. Pihak Kepresidenan Perancis mengatakan, pelanggaran gencatan senjata dikecam keras. Para pemimpin mengusulkan pelaksanaan paket lengkap yang terdiri dari langkah – langkah yang disepakati di Minsk, termasuk gencatan senjata penuh, penarikan mundur persenjataan berat dan pembebasan tawanan perang. Poroshenko meminta pasukan penjaga perdamaian PBB yang diberi mandat untuk menegakkan gencatan senjata setelah berlangsungnya pertempuran yang disertai dengan penguasaan wilayah Debaltseve. Poroshenko melalui situs resmi kepresidenan menyatakan, dengan bentuk bantuan dari kepolisian Uni Eropa akan menjadi format yang tepat untuk misi perdamaian. Saat mengadakan rapat darurat keamanan nasional bersama dengan dewan pertahanan Ukraina, Poroshenko mengatakan, ini akan menjamin keamanan dalam situasi dimana adanya pelanggaran terhadap sebuah perjanjian. Gencatan senjata harus terlaksana, tak ada yang akan mengirimkan pasukannya ke medan pertempuran. Permintaan Poroshenko untuk pengerahan pasukan perdamaian merupakan sebuah rintangan diplomatik yang tidak dapat diatasi. Rusia yang memiliki hak veto dalam Dewan Keamanan PBB, tak hanya menjadi pengamat yang menarik. Walaupun menolak, terlihat oleh Ukraina dan negara Barat sebagai sebuah partisipasi aktif didalam konflik itu. Banyak pengamat yang menyatakan, terlaksana atau tidaknya gencatan senjata masih banyak pertempuran yang akan mereka hadapi. Di Ukraina sendiri kedua belah pihak, memiliki ambisi besar terhadap penguasaan wilayah. Pemberontak yang didukung Rusia akan melangkah lebih jauh dan pemerintah Ukraina berambisi merebut kembali wilayahnya. Sementara itu menurut seorang sumber dari pihak militer di Kiev, sebanyak 14 tentara Ukraina tewas dan 173 tentara lainnya terluka dalam waktu 24 jam terakhir.

Read More.. Label: , , ,