Partai Demokrat AS menuduh peretas komputer asal Rusia berada dibalik serangan cyber terhadap akun email milik Partai Demokrat. Hal ini diutarakan oleh tim kampanye Hillary Clinton, yang menilai bahwa intelijen Rusia membantu kemenangan Trump. Kekacauan pun terjadi saat berlangsungnya Konvensi Partai Demokrat yang berlangsung di Philadelphia beberapa waktu lalu. ... Menanggapi tuduhan ini Presiden Putin menyatakan bahwa Rusia tak akan melakukan interfensi terhadap pemilihan umum sebuah negara. “Berulang kali Presiden Putin mengatakan bahwa Rusia tak pernah mencampuri dan tidak mengurusi urusan dalam negeri negara lain. Khususnya proses pemilihan umum di negara lain,” ucap Dmitry Peskov jurubicara Kremlin dilansir AFP. Dia juga membantah keterlibatan Rusia dalam pembobolan akun email milik Komite Nasional Partai Demokrat (DNC). “Moskow secara hati-hati menghindari aksi, kata-kata yang dapat diartikan mempengaruhi proses pemilihan umum secara langsung atau tidak langsung,” tambah Peskov. Sergey Lavrov Menteri Luar Negeri Rusia juga dengan tegas menyangkal tuduhan ini, bahwa Rusia bertanggung jawab atas serangan cyber itu. “Saya tak ingin menggunakan kalimat yang tak pantas,” jelas Lavrov dilansir BBC. Otoritas keamanan AS dalam hal ini FBI menyatakan kuat dugaan bahwa yang melakukan pembobolan akun email ini adalah pihak Rusia. Penyelidikan tengah dilakukan oleh FBI. Pemerintah AS telah memnentukan kebijakan terhadap aksi serangan cyber dari luar negeri. AS akan mempermalukan para hacker ini dengan mengungkap jati diri mereka di hadapan publik. Ini juga termasuk beberapa serangan cyber yang dilakukan oleh Iran, Korea Utara dan China. Lisa Monaco Penasehat Keamanan Gedung Putih mengatakan tak ada keraguan untuk mengungkap apa yang telah dilakukan Rusia. Donald Trump dan tim kampanye secara terang-terangan membantah adanya hubungan antara dirinya dengan Rusia. Tidak ada bukti-bukti apapun yang memperlihatkan adanya hubungan antara Trump dengan pembobolan email ini. “Ada lelucon baru di kota ini bahwa Rusia membocorkan email milik DNC, yang seharusnya tidak pernah ditulis, karena Putin menyukai saya,” kicau Trump melalui akun twitternya. Putin menyebut Trump sebagai sosok yang cerdas dan penuh talenta. Trump juga mengungkapkan kekagumannya pada kekuatan politik yang dimiliki Putin, meskipun AS memberi sanksi ekonomi terhadap Rusia karena melakukan aksi intervensi ke wilayah Ukraina. “Dalam rangka mengomentari Wikileaks, Demokrat mengatakan mungkin Rusia membantu Trump. Itu gila! Sekedar untuk diketahui, saya tak memiliki investasi satu sen pun di Rusia!” tulis Trump. Paul Manafort Ketua tim kampanye Donald Trump memiliki pengalaman beberapa tahun menjadi penasehat politik untuk wilayah Eropa Timur. Manafort memiliki hubungan dekat dengan Viktor Yanukovych mantan Perdana Menteri Ukraina. Pada 2014 Yanukovych yang lengser dari jabatannya juga dikenal sebagai sekutu terdekat Putin. Komisi Nasional Parti Republik juga menggeser posisi mereka pada Rusia dibawah tekanan dari tim kampanye Trump. Ini terjadi beberapa hari menjelang konvensi nasional partai Republik di Cleveland minggu lalu. Salah satu delegasi partai mengajukan amandemen yang meminta pemerintah AS mempersenjatai Ukraina timur dengan senjata berat untuk pertahanan. Namun para pendukung Trump mendesak agar amandemen ini tidak diurus, melainkan diganti dengan akan memberikan bantuan selayaknya. Presiden AS Barrack Obama juga mengomentari skandal 20 ribu email para petinggi Partai Demokrat yang diunggah ke Wikileaks. Presiden Obama kepada NBC mengatakan tidak mengetahui bahwa pembobolan akun email ini adalah ulah Rusia. “Apa yang saya tahu adalah Donald Trump berulang kali menyatakan kekagumannya kepada Vladimir Putin. Saya pikir Trump mendapatkan dukungan media yang baik di Rusia,” jelas Obama pada NBC seperti dilansir BBC. Obama menambahkan ini bukan berarti Trump bersekongkol dengan Putin. Ini bukan tindakan yang melanggar hukum untuk menyatakan kekaguman terhadap seseorang yang jadi musuh AS atau berbagi nilai-nilai politik yang sama. Melihat hasil jajak pendapat yang ada ini juga tak akan memecah suara pemilih Amerika. “Apa yang saya tahu bahwa Rusia telah membobol sistem komputer AS. Bukan hanya milik pemerintah, juga pada sektor swasta,” sambung Obama.
Read More.. Label: Amerika Serikat, Donald Trump, Hillary Clinton, hubungan Trump dengan Putin, kagumi Putin, konvensi partai dmokrat, konvensi partai republik, pemilu AS, Rusia, Rusia bantu Trump, Vladimir PutinMILWAUKEE – Donald Trump berusaha berjuang untuk mengesampingkan minggu sulitnya dan ingin mencapai hasil terbaiknya pada hari ini di Wisconsin.
Foto/ABCNews: Trump Yakin akan kuasai Wisconsin pada Selasa (5/4)
... Para kandidat calon presiden saling berlomba menebarkan pengaruh mereka. Namun hanya Donald Trump yang melakukan aksi tebar pesona paling aktif diantaran lainnya. Sebelumnya dia dihadapkan pada minggu yang cukup mengurs fokus dan energinya menghadapi perlawanan sengit dari calon presiden Ted Cruz yang menjabat Senator asal Texas.
Pertarungan untuk memperebutkan nominasi calon presiden dari Partai Republik, diikuti oleh gigihnya para pesaing Trump. Kandidat calon dari Partai Republik semuanya menginginkan adanya pemilihan dalam konvensi partai Juli mendatang. Hal ini dimaksud sebagai ujian bagi Trump terkait loyalitasnya terhadap Partai Republik. Trump juga memiliki kesempatan untuk maju sebagai kandidat independen, jika dirinya merasa diperlakukan tidak adil dalam partainya.
Diikuti oleh Cruz dalam hasil jajak pendapat di Wisconsin, Trump pada Minggu (3/4) mengatakan kepada para pendukungnya di West Allis, Wisconsin bahwa Cruz adalah seorang pembohong dan penipu kotor yang busuk yang sangat lemah terhadap masalah imigrasi dan akan melakukan pemotongan dari Manfaat Jaminan Sosial. “Wisconsin akan menjadi hal besar yang penuh kejutan pada hari ini. Kami melakukannya dengan baik,” jelas Trump dilansir Reuters.
Saat ini partai Republik di AS mengontrol kongres serta mendominasi panggung politik AS. Pada pemilihan presiden 2016 kandidat partai Republik yang berjumlah 17 orang jauh lebih baik daripada empat tahun sebelumnya. Partai yang mendapat julukan Grand Old Party (GOP) telah menjadi sebuah pertunjukan sirkus dengan diusungnya Donald Trump. ... Sejak kemenangan dalam pemilu sela November lalu, citra partai Republik kian memburuk. Para kandidat Presiden berjuang untuk mendamaikan pemikiran dari mereka yang konservatif dari pemilih dan jangkauan politik yang lebih luas. Pemimpin partai dalam kongres berjuang dari garis belakang berhadapan dengan pemberontak konservatif. Agar tidak teratur ketika salah satu senator, Ted Cruz dari Texas menyebut pemimpin Mayoritas Senat, Mitch McConnell dari Kentucky sebagai seorang pembohong. Atau ketika Senator partai Republik Mark Meadows dari Carolina Utara mengajukan mosi yang sembrono untuk menyingkirkan pembicara John A Boehner dari Ohio. Partai Republik menujuk kepada permasalahan partai Demokrat yang dinilai mengecilkan mereka sendiri. Bahkan setelah kesuksesan, peringkat persetujuan Presiden Obama masih berada dibawah 50% dan banyak simpatisan partainya yang menolak perjanjian nuklir gagasannya dengan Iran. Peringkat Hillary yang tidak menguntungkan namun tidak seburuk Donald Trump. Tapi keduanya hampir tak ada alasan untuk menghibur, mengingat posisi Hillary dalam nominasi. Kekuatan partai Demokrat di AS telah hancur dalam kurun waktu enam tahun terakhir. Tempat bagi calon presiden merupakan yang tertipis dalam ingatan. Namun pembuktian tertentu masih menjadi beban berat bagi partai Republik. Mereka kehilangan suara rakyat dalam pemilihan presiden dalam lima dari enam pemilihan umum terakhir. Selama enam pemilu mereka hanya menorehkan rata – rata 211 suara electoral, kurang 59 suara yang dibutuhkan untuk memenangkan pemilu. Bagi partai Demokrat suara elektoral mereka adalah 327. Negara bagian Pennsylvania, yang sangat kompetitif dalam pemilihan presiden sekarang lebih memilih kandidat dari partai Demokrat selama enam kali berturut – turut. Itu tidak menggambarkan bahwa kandidat yang tepat tidak dapat membuat daerah pemilihannya jadi kompetitif. Mungkin mantan Gubernur, Jeb Bush atau Senator Marco Rubio dapat mengembalikan Florida setelah dua kali berturut – turut ditaklukkan partai Demokrat, namun perubahan populasi sangat membantu Demokrat. Para ahli strategi partai Republik mengira Gubernur Wisconsin, Scott Walker atau Gubernur Ohio, John Kasich mangandalkan negara – negara bagian utara di AS sebagai basis suara mereka. Kandidat presiden dari partai Republik lainnya dapat melakukan hal yang sama. Terdapat beberapa hal yang menjadi barometer untuk memenangkan kontes pemilihan kandidat presiden partai Demokrat. Prediksi pasar saham menjadi hal penting dibanding dengan jajak pendapat. Hal ini ditunjukkan dengan rekam jejak yang lebih baik dari jajak pendapat ketika menunjuk kepada akhir calon kandidat. Pada 2012, saat Herman Cain dan Newt Gingrich memimpin hasil jajak pendapat, hal ini sama sekali tidak mempengaruhi pergerakan pasar saham. Kelemahan dari prediksi ini terkadang suka melebih – lebihkan seperti halnya Donald Trump. Berikutnya adalah dukungan nasional, sejak 1980 prediksi tepat dari siapa calon kandidat yang akan menang terlihat dari seberapa besar dukungan dari elit partai yang didapatnya. Elit politik partai telah memantau perkembangan kandidat selama tahunan dan mengetahui kandidat mana yang dapat bertahan dalam kampanye. Elit politik juga dapat mempengaruhi pemilih dan penyokong dana dengan memuji atau mengkritik kandidat. Selanjutnya adalah jajak pendapat Iowa, Scott Walker memiliki kekuatan di wilayah ini dan telah bertahan selama beberapa bulan. Ini adalah petanda yang baik baginya. Disusul dengan jajak pendapat New Hampshire, wilayah ini memiliki rekam jejak yang cukup baik dalam memilih calon. Tak ada kandidat yang dapat memenagkan nominasi tanpa menjadi pemenang di New Hamshire atau Iowa. Terakhir adalah pengumpulan dana, terdapat dua lasan untuk hal ini. Pertama adalah petanda sebuah kekuatan dari seorang kandidat dan dapat menjadi sumber kekuatan yang lebih jauh lagi. Hal ini dimiliki oleh Jeb Bush dengan kekayaannya yang berlimpah. Uang didapat dari pengumpulan dana langsung saat kampanye dan dana yang diperoleh dari tim khusus atau kelompok yang menjadi penyokong kampanye. Penelitian Gallup dan Pew telah memberikan beberapa pemberitaan buruk bagi partai Republik pada musim panas ini. Akhir bulan lalu Pew melaporkan adanya dukungan yang menurun tajam, turun sejauh 32% dari awalnya 41% pada akhir Januari. Peneltian Gallup juga menghasilkan data serupa saat publikasi minggu lalu. Sebelumnya Gallup melaporkan Demokrat berada didepan Republik dalam prosentase suara pemilih warga Amerika. Hasil penelitian Pew juga menunjukkan adanya penurunan di kubu Demokrat dari 18% menjadi 14% dan penurunan besar pada independen dari 37% menjadi 29%. Tapi penurunan tajam terjadi di kubu Republik turun tajam sebesar 18 poin dari 86% ke 68% sejak Januari. Dalam setahun terakhir, para pendukung Partai Republik memiliki pandangan yang lebih positif pada partai mereka. Kondisi ini memberikan dampak yang baik menjelang pemilu. Meski demikian, ada sejumlah temuan menunjukkan partai itu tetap memiliki beberapa masalah citra eksternal dan perbedaan internal yang mencerminkan berbagai harapan di antara para pendukung Republik. Minggu mendatang merupakan waktunya bagi para kandidat, dengan adanya forum, debat dan pertemuan konservatif selama tujuh hari kedepan. Sebanyak 14 kandidat dari Republik akan dikumpulkan di kampus Saint Anselm College. Acara debat disponsori oleh sebuah perusahaan surat kabar New Hampshire Union Leader dan stasiun televisi lokal, juga di Iowa dan Carolina Selatan. Namun kali ini Donald Trump dan mantan Gubernur Arkansas, Mike Huckabee tak dapat turut serta. Sekarang nasib partai Republik berada ditangan para pendukungnya untuk menentukan seorang kandidat. Pemilih yang khas berada jauh dibelakang media. Hasil jajak pendapat hanya merupakan sebuah emosi sesaat saja, tidak menjadi indikator untuk penentuan masa depan. Gaya bicara blak – blakan ala Trump memberinya lonjakan dukungan. Lainnya, masih meragukan bahwa dia akan menjadi ancaman serius untuk memenangkan nominasi, namun dampaknya bagi partai cukup diperhitungkan. Bush lebih dari kandidat lainnya, dia fokus untuk mencari dukungan dari para warga keturunan Hispanik dan Afrika Amerika. Walker merupakan satu – satunya kandidat dengan rata – rata raihan dua angka dalam jajak pendapat. Empat tahun lalu proses nominasi kandidat presiden tidak sesaui harapan partai Republik. Mitt Romney menjadi penyebab dirinya sakit. Bersama, mereka akan mulai untuk menentukan bentuk dari masa depan dan prioraitas partai Republik. Para kandidat memang tidak fokus kea rah itu, namun secara bersama – sama itu akan mencerminkan masa depan partai.
Read More.. Label: Donald Trump, elit politik, kandidat presiden AS, partai Republik, pemilu ASWASHINGTON – Hasil jajak pendapat baru yang dilakukan Universitas Quinnipiac menunjukkan Donald Trump bercokol di posisi puncak dari rival terdekatnya dari partai Republik. Angka yang diraih Trump dalam jajak pendapat sebesar 20% Diikuti oleh Scott Walker, Gubernur Wisconsin dengan perolehan 13%. Adik dari mantan Presiden George W Bush, Jeb Bush berada diposisi ketiga dengan perolehan 10%. ... Hanya ketiga trio dari partai republik ini yang meraih perolehan dua digit dari empat kali pelaksanaan jajak pendapat nasional. Dibelakang mereka ada mantan ahli bedah saraf Ben Carson, mantan Gubernur Arkansas, Mike Huckabee, Senator Kentucky Rand Paul, Senator Florida Marco Rubio. Keempat kandidat tersebut masing – masing meraih perbedaan tipis dengan angka 6%. Senator Texas Ted Cruz dan Gubernur Ohio John Kasich, mereka membayangi dengan perolehan 5%. Kesuksesan sementara Trump tidak diikuti dengan dukungan suara. Dia berada di puncak dari kandidat partai Republik, namun mereka tak akan memberi dukungan, 30% pemilih menyatakan tidak mendukung, angka ini naik 9% dari survey terakhir pada Mei lalu sebesar 21%. Para pemilih wanita dari partai Republik menyatakan tidak mendukungnya, hal ini ditunjukkan dengan angka sebesar 37%. Dalam kampanyenya di negara bagian Arizona, sikap Trump yang tanpa basa basi berhasil menarik simpati pemilih konservatif terkait hal imigrasi. “Saya menghormati Meksiko sebagai sebuah negara. Tapi pemimpin mereka lebih pintar, lihai dan tajam. Mereka memanipulasi kita di perbatasan, perdagangan. Mereka memanipulasi kita !” ucap Trump dilansir CNN Jika dihadapkan dengan hasil jajak pendapat pemilihan umum, Trump tertinggal jauh dengan lawan politiknya dari partai Demokrat. Dia mengejar dua pelopor Demokrat, Hillary Clinton dan Wakil Presiden, Joe Biden dengan kunggulan 12 angka, sementara Senator Vermont, Bernie Sanders berada 8 angka didepan Trump. Sementara Bush dan Walker masing – masing berada sekitar dengan Clinton dan Biden dalam pertarungan langsung mereka. Sementara Sanders mengikuti jejak dua kandidat partai Republik. Sementara jajak pendapat Quinnipiac untuk partai Demokrat, menunjukkan mantan ibu negara, Hillary Clinton menduduki posisi teratas dengan angka 55%, diikuti dengan pesaing terdekatnya Sanders dengan 17%, ini menempatkan Clinton hampir memimpin dengan hampir 40%.
Read More.. Label: Donald Trump, imigrasi AS, jajak pendapat partai Republik, pemilu di AS