TOKYO – Putra Mahkota Jepang Naruhito, kemungkinan akan dinobatkan sebagai pewaris tahta dari salah satu kerajaan tertua di dunia. Namun dia tidak sungkan untuk melayangkan kritik atau sejarah perang negaranya. Naruhito yang kini memasuki usia 56 tahun secara halus menyampaikan kritik yang sebelumnya belum pernah dilakukan, menyalahkan gaya hidup kaku yang dipaksakan pada anggota keluarga kerajaan selama satu dekade ini. Terutama pada penyakit depresi yang diderita istrinya yang pernah menjabat posisi tinggi sebagai seorang diplomat. ... Seperti ayahnya, pewaris tahta ini juga mengingatkan pemerintah Jepang untuk tidak meremehkan kejadian awal abad ke-20 dan aksi Jepang pada Perang Dunia Kedua. Pernyataan ini dianggap sebagai teguran terhadap pemerintahan dibawah kepemimpinan Shinzo Abe. Pernyataan ini diluar dari kebiasaan yang dilakukan oleh pihak kerajaan Jepang. Menurut konstitusi yang diberlakukan oleh tentara pendudukan Amerika Serikat paska Perang Dunia Kedua, pihak kerajaan Jepang dilarang untuk memberi pernyataan yang bermuatan nilai politik. Tentu saja hal ini menghilangkan kekuatan kerajaan sejak ayah Akihito menjabat Kaisar. Sebagai anak tertua dari dua bersaudara, Naruhito akan menjadi penerus jika ayahnya meninggal atau mengundurkan diri dari jabatan. Hal tersebut menjadi tanda dari Kaisar Akihito, 82, yang secara halus dsampaikan dalam pidatonya yang disiarkan kepada publik Jepang dan dunia pada Senin (8/8). Kaisar Akihito dalam pidatonya mengisyaratkan akan turun tahta dalam beberapa bulan kedepan. Kaisar akan mewariskan gelarnya pada Pangeran Naruhito. “Saya khawatir kondisi yang saya alami membuat saya sulit menjalankan tugas sebagai simbol negara seperti yang telah dijalankan selama ini,” terang Akihito seperti dilansir BBC. Secara singkat Naruhito mengambil tugas resmi kekaisaran pada 2012, saat Kaisar Akihito menjalani masa pemulihan kesehatan paska operasi bedah jantung dan mengatakan bahwa Kaisar harus mengurangi aktifitasnya karena faktor usia. Naruhito lahir pada 23 Februari 1960 dan menjadi pangeran pertama yang tumbuh bersama orang tuanya serta saudaranya dalam istana kekaisaran. Lazimnya adat istiadat kekaisaran Jepang mewajibkan keturunan mereka diasuh oleh pengasuh dan pejabat khusus kekaisaran yang bertanggung jawab mengawasi pendidikan mereka. Putra Mahkota menempuh pendidikan tingginya dalam bidang sejarah di Jepang kemudian pada 1980-an juga menempuh pendidikan tingginya pada Universitas Oxford selama dua tahun. Masako Owada menjadi gadis pujaan hatinya yang dinikahinya pada 1993. Owada berasal dari keluarga dengan orang tua yang berprofesi sebagai diplomat. Saat itu, Naruhito berjanji akan melindungi istrinya dari segala macam gangguan apapun ketika memasuki dunia baru kekaisran Jepang yang terkenal dengan kekakuannya. Namun keluarga kekaisaran Jepang menjalani kehidupan tertutup dalam istananya. Dikelilingi dengan tembok batu dan parit yang cukup lebar. Sebagian besar penampilan dihadapan publik anggota keluarga kekaisaran sangat diatur dengan seksama. Pada 2004 pihak istana mengumumkan bahwa putri Masako sedang menjalani perawatan depresi akut. Hal ini dikarenakan gangguan penyesuaian perilaku hampir selama masa pernikahannya. Menanggapi hal ini, Pangeran Naruhito menuduh istana melakukan pengawalan yang terlalu ketat hingga menyesakkan kepribadian istrinya. Naruhito mengungkapkan dalam hal ini dalam pernyataan publiknya dimana belum pernah terjadi sebelumnya. Kemudian Naruhito melayangkan permohonan maafnya kepada istana dan meminta tugas baru kekaisaran yang cocok dengan abad ke-21. Pangeran Naruhito sangat aktif dalam upaya konservasi air. Pada 2003 dia juga memimpin pertemuan membahas hal ini. Tapi perjuangan istrinya beradaptasi dengan kehidupan kekaisaran dan pertanyaan terbuka akan menjadi seperti apa nantinya Kaisar Jepang ini menjadi beban tersendiri bagi pasangan ini. Ibunda Naruhito, Permaisuri Michiko juga menjadi warga biasa pertama Jepang yang menikahi dengan anggota keluarga kekaisaran. Permaisuri juga menderita depresi karena berusaha menyesuaikan diri dengan kehidupan kerajaan. Michiko pernah menyatakan bahwa dia berharap memiliki jubah jerami agar menjadi tak terlihat, sehingga dia dapat pergi ke toko buku bekas di Tokyo dan dapat berjalan-jalan. Putri Owada menikahi Pangeran Naruhito serta meninggalkan karir pekerjaannya. Pada 2001, mereka dikaruniai seorang anak tunggal perempuan. Hal ini juga membuat mereka mendapat tekanan yang cukup besar dari istana yang menginginkan anak laki-laki sebagai pewaris tahta kekaisaran berikutnya. Juga telah dilakukan upaya untuk merevisi konstitusi yang dibuat sejak awal abad ke-19 yang isinya pengecualian terhadap adanya putri mahkota. Namun untuk menghindari krisis politik akhirnya pihak istana mendapat solusi dengan lahirnya anak laki-laki dari adik Pangeran Naruhito.
Read More.. Label: Jepang, Kaisar Akihito, Kaisar Jepang turun tahta, Pangeran NaruhitoPangeran Naruhito Lontarkan Kritik Pada Kekaisaran Jepang
TOKYO – Jepang memperingati lima tahun insiden gempa bumi yang terjadi di lepas pantai pada Jum’at 11 Maret 2011. Kemarin semua aktifitas di Jepang dihentikan sejenak untuk mengenang insiden yang disertai tsunami besar menewaskan 18.500 jiwa terjadi di lepas pantai timur laut. Bencana ini juga menyebabkan kecelakaan nuklir di reaktor Fukushima yang menjadi bencana terbesar dalam 25 tahun terakhir.
Foto/Reuters: Seorang warga Jepang menangis saat peringatan 5 tahun tragedi nuklir dan tsunami
... Kaisar Akihito, Putri Michiko, Perdana Menteri Shinzo Abe hadir dalam acara peringatan nasional lima tahun tragedi gempa dan tsunami itu. Peringatan ditandai dengan dilakukannya mengheningkan cipta serentak di seluruh wilayah Jepang pada pukul 14.46 waktu setempat. Ini merupakan waktu dimana gempa terjadi pada lima tahun lalu. Perdana Menteri Shinzo Abe dan Kaisar Jepang Akihito meletakkan karangan bunga pada upacara yang diadakan di Teater Nasional, Tokyo.
Dalam pernyataan untuk mengenang insiden itu, Kaisar Akihito, 82, berbicara tentang korban yang harus dievakuasi karena terpapar kontaminasi bahan aktif nuklir. “Saya turut merasakan sakit, saat memikirkan orang-orang yang tak dapat kembali ke tempat tinggalnya,” ucap Akihito seperti dikutip AFP. Dia mengatakan bahwa beberapa wilayah tidak dapat dijadikan tempat tinggal lagi, meski beberapa wilayah lainnya telah dinyatakan bebas kontaminasi nuklir. Kini situasi di wilayah Fukushima sangat rapuh, dimana pembangkit nuklir meledak menyebarkan bahan radioaktif ke wilayah sekitar dan perairan. Bencana ini memaksa puluhan ribu warga yang tinggal disekitarnya untuk meninggalkan rumah mereka, perkebunan dan perahu nelayan.
Foto/Reuters: Warga Jepang yang turut berduka cita
Dalam peringatan lima tahun bencana nuklir ini Akihito juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh tim penolong korban bencana. “Terima kasih yang terdalam dihaturkan untuk anggota angkatan bersenjata Jepang, polisi, pemadam kebakaran, penjaga pantai Jepang serta para pejabat pusat dan lokal. Juga kepada warga sipil yang mengabdikan dirinya dalam operasi pencarian dan peyelamatan dalam kondisi yang keras, tanpa memperhatikan keselamatan mereka ataupun mengabaikan rasa sakit,” tambah Akihito dilansir JapanTimes.
Saat itu wilayah perairan Jepang mengalami gempa bumi berkekuatan 9 skala richter (SR) di pantai Tohoku hingga menyebabkan tsunami setinggi 17 meter. Tsunami besar ini mengakibatkan kebocoran pada pembangkit nuklir Fukushima Dai-chi. Tiga reaktor nuklir pada fasilitas itu meleleh dan menyebarkan radiasi di wilayah sekitar. Wilayah perairan, perkebunan serta udara terkontaminasi oleh isi reaktor nuklir.
Foto/AP: Tsunami yang mengahantam Jepang, sebelumnya didahului oleh gempa
