KATHMANDU – Tim SAR Nepal pada Rabu (24/2) menemukan puing-puing pesawat penumpang di wilayah terpencil pegunungan, setelah sebelumnya pesawat ini putus komunikasi dengan menara pengawas. Pesawat membawa 23 orang. Hal ini disampaikan oleh Menteri Penerbangan Nepal. ... Menteri Kebudayaan, Turisme dan Penerbangan Sipil, Aananda Prasad Pokharel mengatakan pesawat jenis Twin Otter turbo ini berhasil ditemukan di bagian barat dari wilayah Myagdi. Disekitar lokasi jatuhnya pesawat juga tergeletak mayat dari para penumpang pesawat. “Pesawat ditemukan dalam kondisi benar-benar hangus terbakar di Solighopte wilayah Myagdi,” ujar Pokharel dilansir AFP. “Tim penyelamat mengatakan bahwa jenazah tersebar di sekitar lokasi dan sekarang tidak mungkin untuk melakukan identifikasi. Lebih banyak aparat keamanan dikerahkan dan kami mengumpulkan informasi sebanyak mungkin,” sambung Pokharel. Penduduk lokal melaporkan melihat puing-puing pesawat yang diduga milik maskapai Tara Air, tak lama setelah menerima laporan otoritas mengerahkan pasukan darat dibantu dengan dukungan udara berupa helikopter untuk mencari di wilayah Myagdi, wilayah pegunungan berjarak 220 km sebelah barat kota Kathmandu. Jurubicara maskapai Tara Air mengatakan, pesawat mereka membawa 20 penumpang dan tiga orang awak kabin. Seorang penumpang merupakan warga negara China dan seorang lagi warga negara Kuwait, sisa penumpang lainnya warga Nepal, termasuk dua anak asal Nepal. “Pesawat twin otter ini hancur berkeping-keping,” ucap Biswaraj Khadka seorang polisi seperti dilansir Reuters. “Tak ada penumpang yang selamat,” tambahnya. Pihak maskapai menegaskan, pada Rabu (24/2), pesawat Twin Otter putus komunikasi dengan menara pengawas 8 menit setelah lepas landas dari kota Pokhara yang ramai dikunjungi turis. Sebuah pernyataan yang dimuat dalam situs maskapai mengatakan kondisi cuaca cukup bagus saat pesawat itu melakukan lepas landas dengan tujuan kota Jomsom. Kota ini merupakan tujuan favorit untuk melakukan wisata pegunungan sekitar Himalaya hanya berjarak 20 menit penerbangan pesawat dari Pokhara. Pejabat setempat mengatakan kabut tebal telah menyelimuti area Mustang yang merupakan lokasi Jomsom. Mustang adalah area pendakian populer di sirkuit pendakian Gunung Annapurna. Pesawat yang serupa mengalami kecelakaan pada 2014 di Nepal barat dan menewaskan 18 orang. “Cuaca di tempat keberangkatan pesawat dan kota tujuan menjadi tujuan favorit para pelancong dan menara pengawas bandara Pokhara telah mengijinkan pesawat untuk terbang,” tulis pernyataan itu. Maskapai Tara Air merupakan perusahaan penerbangan yang disubsidi oleh maskapai Yeti Airlines, sebuah perushaan swasta yang didirikan pada 1998 yang melayani semua tujuan penerbangan ke seluaruh wilayah Nepal. Pada 2010 maskapai juga pernah mengalami kecelakaan buruk, saat itu pesawat disewa oleh sekelompok turis asal Bhutan dan mengalami kecelakaan di wilayah pegunungan bagian timur Nepal. Jumlah jalanan yang ada di Nepal masih sedikit, kondisi ini menyebabkan jalur penerbangan menjadi alternatif untuk melakukan aktifitas perjalanan. Banyak wilayah-wilayah terutama daerah pegunungan dan bukit yang hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki atau lewat udara. Kunda Dixit seorang pengamat penerbangan mengatakan cuaca di sekitar lokasi kecelakaan cenderung memiliki angin yang sangat kuat. “Banyak penerbangan yang melewati wilayah ini sebelum pukul 9:30 waktu setempat, karena setelah itu angin bertiup cukup kencang,” jelas Dixit kepada AFP. “Ini sangat aneh karena pesawat yang digunakan masih baru dan cuaca pagi itu sangat cerah. Pilot cukup berpengalaman dan mengutamakan keselamatan. Saya telah terbang bersama pilot itu 10 hari sebelumnya,” sambung Dixit. Dalam beberapa tahun ini industri penerbangan Nepal mengalami banyak kecelakaan yang berpengaruh terhadap industri turisme. Sebagian besar terjadi karena akibat dari kurangnya pengalaman pilot, manajemen yang buruk dan perawatan pesawat yang kurang baik. Pada 2013 Komisi Penerbangan Uni Eropa menjatuhkan sanksi terhadap maskapai Nepal. Siim Kallas, Komisaris Transportasi Uni Eropa mengatakan saat itu catatan keselamatan penerbangan yang ada tak memberi kami pilihan lain. Kecelakaan penerbangan terburuk Nepal terjadi pada Mei 2014, ketika helikopter milik Marinir Amerika Serikat yang membantu penanganan korban bencana jatuh akibat cuaca buruk. Kejadian ini menewskan 6 orang marinir dan tujuh orang lainnya.
Read More.. Label: 23 penumpang tewas, Aananda Prasad Pokharel, Kathmandu, kecelakaan pesawat, Menteri Penerbangan Nepal, Tara Air, tim SAR NepalPesawat Nepal Tara Air Ditemukan, Namun 23 Penumpang Tewas
ALASKA - Pesawat yang biasa dipakai untuk tamasya diawaki seorang pilot dan delapan orang penumpangnya mengalami kecelakaan menabrak tebing di wilayah tenggara Alaska. Insiden yang terjadi pada Kamis (25/6) dan diperkirakan pada pukul 12.20 waktu setempat dan menewaskan semua penumpangnya. ... “Tidak ada penumpang yang selamat, “ujar Promech Air, operator pesawat itu dilansir CNN. Kepolisian Alaska mengatakan, karena kondisi cuaca buruk, proses pencarian jenazah tidak akan dilakukan sampai hari Jum’at kemarin. Nama semua penumpang masih dirahasiakan sampai seluruh keluarga korban diberitahukan. Kedelapan penumpang merupakan penumpang dari kapal pesiar Holland America Line yang sedang dalam tur tamasya ke Misty Fjords, Alaska. Badan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) cabang Alaska, mengerahkan tim penyelamatnya untuk menyelidiki kecelakaan. Melalui akun twitternya, NTSB mengatakan tim penyelamat sudah termasuk tiga orang dari Alaska dan sedikitnya dua orang dari Washington. “Tim penyelamat awal yang pergi mendapat kesulitan karena medan yang dilalui cukup berat , “ucap Clint Johnson, kepala Badan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) Alaska dilansir USAToday. “Ini medan yang sangat curam, wilayah pegunugan dan kondisi cuaca membuat mereka harus berhenti, “tambah Johnson Pesawat jenis DeHavilland DHC-3T Otter, merupakan pesawat yang dapat mendarat diatas air diperkirakan menabarak area tebing curam sekitar 25 mil (40,2 km) timur laut, Ketchikan, Alaska. Pihak penyelidik masih belum mengetahui apa yang menjadi penyebab terjadinya kecelakaan. Johnson mengatakan masih terlalu dini untuk menentukan penyebab dari kecelakaan ini, apakah menabrak atau pesawat terbang kearah tebing. Seorang pilot helikopter melaporkan melihat puing – puing pesawat di atas batu granit sekitar 800 kaki (243 meter) diatas Danau Ella. “Kami sangat tertekan dengan situasi ini dan pikiran serta doa – doa kami menyertai para korban dan keluarganya, “ucap perusahaan Holland America Line. “Tak ada yang dapat saya ungkapkan yang dapat mengurangi rasa sakit dan rasa kehilangan yang luar biasa dan perasaan orang terkasih mereka yang kehilangan, “ucap Marcus Sessoms, presiden Promech Air. “Pada saat ini, semua orang ikut merasakan sakit dan penderitaan dari musibah yang mengerikan ini, “tambah Sessoms. Pesawat ini sedang bertamasya di perairan Alaska merupakan bagian dari paket tur wisata dari Holland America Line. Kedelapan korban, mereka berlayar meninggalkan Seattle, AS pada Sabtu (20/6) untuk menempuh pelayaran pulang pergi selama 7 hari dengan kapal MS Westerdam. Kemudian dilanjutkan dengan tur pesawat terbang air menuju Monumen Nasional Misty Fjords, area seluas 2 juta acre (810.000 hektar). Karena letaknya, sehingga wilayah ini hanya dapat dikunjungi dengan pesawat terbang air atau perahu. “Tebing granit menjulang tinggi, air terjun setinggi 304 meter, lembah yang subur dan terpencil, danau seperti kristal yang tenang. Membuat pemandangan ini menjadi sangat luar biasa, “ungkap Promech Air dalam situsnya.
Read More.. Label: Alaska, Holland America Line, kecelakaan pesawat, pegunungan Alaska, Promech Air